Sabtu, 13 Agustus 2011

MUTIARA HIKMAH SAYYIDINA ALI RA

Janganlah dirimu meneliti-meneliti dan mengulik aib orang lain
Aku telah mencari kenyamanan diriku dan aku tidak mendapatkan yang lebih nyaman daripada meninggalkan hal-hal yang bukan urusanku. Kerendahan orang dapat diketahui dari banyaknya omongannya dalam hal-hal yang bukan urusannya, juga pengungkapannya  atas hal-hal yang tidak ditanyakan kepadanya.
Tinggalkanlah perkataan yang tak engkau ketahui maupun bicara yang tidak dibebankan kepadamu. Barangsiapa yang membebani diri dengan hal-hal yang bukan kepentingannya, niscaya akan terlewat darinya hal-hal yang menjadi urusannya.

Aib orang dan gunjingan
Wahai hamba Allah, janganlah engkau tergesa-gesa mencela seseorang karena dosanya –bisa saja dosa orang itu telah diampuni Tuhan. Janganlah engkau merasa aman atas dirimu lantaran dosa (meski kecil) yang engkau lakukan –bisa saja engkau akan diazab karenanya. Barangsiapa mengetahui aib orang lain, hendaklah ia menahan diri mencelanya (bukankah ia pun ada aib tertentu yang mesti diteliti) dan menyibukkan diri bersyukur kepada Tuhan atas karunia-Nya yang telah melindunginya dari hal-hal yang orang lain diuji dengan itu. Pencela yang mencela saudaranya dan mencemooh musibah yang menimpa saudaranya: bagaimana ia bisa tak menyadari bahwasanya Allah telah menutupi dosa-dosanya tertentu yang bisa saja dosanya ini lebih besar dari dosa saudaranya yang dicelanya itu?
Beruntunglah orang yang disibukkan aib-aibnya sendiri daripada mengurusi aib orang lain (barangsiapa melihat aib dirinya sendiri niscaya ia tidak akan mengurusi aib orang lain). Beruntunglah ia yang tak ‘mengenal’ orang-orang dan orang-orang pun tak mengenalnya. Beruntunglah ia yang hidupnya bagai orang mati –ia ada namun serasa tak ada. Ia tak reseh tentang orang-orang dan orang-orang pun tak pernah bertanya tentangnya.
Menggunjing itu ladang orang-orang tercela, gunjingan itu celaan batiniyah. Menggunjing adalah jembatan kejahatan.
Wahai manusia, barangsiapa yang mengetahui kredibilitas saudaranya dalam agama dan ia berada di jalan lurus, janganlah mendengarkan gunjingan orang-orang terhadapnya. Sebab, sesungguhnya seorang pemanah terkadang melepaskan panahnya namun panah itu meleset dari sasaran. Demikian pula halnya pembicaraan, terkadang direkayasa dan kebatilannya membinasakan. Ingatlah, Allah Maha Mendengar lagi Maha Menyaksikan. Ketahuilah, sesungguhnya jarak antara kebenaran dan kebatilan hanyalah empat jari –sangat dekat.
Orang yang mencari kebenaran lalu ia sempat keliru (dalam perjalanannnya) tidaklah sama dengan orang yang mencari kebatilan lalu dia mendapatkannya.
 
Menjaga rahasia, jangan berprasangka dan dengki
Hak setiap rahasia adalah untuk dijaga, dan rahasia yang paling berhak mendapatkan penjagaan adalah rahasiamu bersama Tuhanmu, dan rahasia-Nya bersamamu. Ketahuilah, barangsiapa yang mencemarkan orang lain –apalagi saudara– niscaya dia akan dicemarkan. Dan, barangsiapa membocorkan rahasia, maka dia telah membolehkan darahnya sendiri untuk ditumpahkan.
Hindarkanlah olehmu: “Aku duga..” atau, “Aku kira..” Prasangka-prasangka selalu mendesak-desakkan sesuatu yang dirahasiakan dan tak tahan segera membongkarnya. Buruk sangka melayukan hati, mencurigai orang yang terpercaya, menjadikan asing kawan yang ramah, dan merusak kecintaan saudara.
Kedengkian itu perangai yang rendah, dan di antara kerendahannya adalah ia menimpa orang yang paling dekat, kemudian yang lebih dekat lagi.
Janganlah sekali-kali buruk sangka menguasaimu, sesungguhnya ia tak akan meninggalkan engkau dan Tuhanmu suatu perdamaian. Janganlah prasangka merusak hubunganmu dengan seorang teman sedang hubungan kalian telah terjalin dengan baik.
Kebatilan itu saat kau katakan, “Aku mendengar....” (mendengarkan dugaan-dugaan), sedang kebenaran itu saat kau katakan, “Aku melihat...” (menyaksikan dengan senyatanya)
Dzikir
Keselamatan memiliki sepuluh bagian, yang sembilan di antaranya terdapat dalam diam –kecuali dari dzikrullaah, sedang yang satunya lagi terdapat dalam meninggalkan pergaulan dengan orang-orang bodoh.
“Ya Allah, sesungguhnyalah dosa-dosaku tidak merugikan-MU dan curahan Rahmat-MU padaku tidak mengurangi-MU. Karenanya ampunilah daku atas sesuatu yang tidak merugikan-MU itu dan karuniailah daku dengan sesuatu yang tidak memberikan keuntungan bagi-MU itu.”
 
“Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku kebaikan-kebaikan dan bimbinglah diriku ke jalan yang lurus. Ya Allah, perlakukanlah daku dengan Ampunan-MU dan janganlah ENGKAU perlakukan daku dengan Keadilan-Mu.”
Wallaahu a’lam bish shawab

lidahwali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar